Tenggelamnya Paradoks Indonesia
2019 yang lalu saya membaca sebuah buku yang berjudul Paradoks Indonesia yang ditulis oleh Prabowo Subianto, di mana isinya gagasan Prabowo tentang ekonomi. Saat saya membaca gagasan Prabowo, yang akan menghambat perusahaan-perusahaan asing di Indonesia membawa keuntungan yang diperoleh ke negara mereka. Contoh perusahaan otomotif. Prabowo berkeinginan akan memutarkan kembali sebagian keuntungan yang diperoleh oleh perusahaan dan menjaganya tetap beredar di Indonesia. Saya terbayang Lee Kwan Yew yang begitu berjasa membangun ekonomi Singapura ketika membaca buku Paradoks Indonesia.
Dua kali bertarung melawan Jokowi, dua kali pula Prabowo kalah. 2019 Prabowo bergabung ke kabinet Jokowi sebagai menteri pertahanan, fenomena langka itu membuat saya bertambah tertarik dengan politik dan terus belajar politik sampai sekarang. Sebagai menteri wajar rasanya Prabowo memuji kebijakan atasannya yang dia anggap baik untuk rakyat, meskipun dikritik oleh banyak ahli. Tetapi saya melihat di sanalah mulai tenggelam Prabowonomic atau gagasan ekonomi yang ditulis Prabowo dalam bukunya itu.
Gagasan ekonomi Jokowi atau biasa disebut Jokowinomic, begitu keras dikritik oleh para ahli ekonom. Pemerhati lingkungan juga menyorot Jokowinomic, bukan hanya dalam negeri, luar pun begitu. Jokowinomic mengancam keberadaan lingkungan. Jokowinomic mengandalkan kekuatan asing. Kemudian yang juga disorot adalah food estate, proyek singkong yang sebagian diklaim gagal. Singkong tak berbuah, lingkungan telah rusak terlebih dahulu. Tapi bagi Prabowo, Jokowinomic mesti tetap dipertahankan.
Tidak hanya itu, Prabowo juga tak segan-segan menyebut dirinya tim Jokowi. Sampai di situ benar, karena dia menteri atau pembantu Jokowi. Tetapi dalam pemilu 2024 dan proses mencapai hari pemilihan, Prabowo semestinya tidak menyatakan hal demikian. Saya duga, Prabowo mengatakan hal itu karena ingin mewujudkan ambisinya dengan mencari dukungan dari pendukung Jokowi. Terlebih, sering Jokowi menampakkan sikap mendukung Prabowo.
Kegamangan mantan jenderal itu semakin terlihat ketika Golkar dan PAN menyatakan dukungan. Saking gamangnya, dan saking ngebetnya Prabowo agar terlihat sebagai orangnya Jokowi, nama koalisi yang telah ditetapkan bersama PKB sebelumnya dia ubah dari KKIR menjadi KIM, koalisi Indonesia maju, di mana itu nama koalisi Jokowi periode kedua. Hal itu dilakukannya agar tetap terlihat dengan sangat meyakinkan bahwa dirinya masih bagian dari petugas partai yang ditingkatkan penugasannya oleh parpol sebagai presiden. Seorang ketum parpol besar, gamang dihadapan petugas partai yang memiliki kekuatan pendukung yang kuat. Dukungan itulah yang kemudian dicoba ambil oleh Prabowo sehingga Paradoks Indonesia tenggelam bersama timbulnya Prabowo Subianto di Pemilu pilpres 2024.
Prabowo Subianto seakan mengira bahwa gagasan besar dalam politik Indonesia tidak menjanjikan, dan melihat massa pendukung Jokowi lebih menjanjikan, Prabowo Subianto, capres 2024 seolah mencampakkan ide-idenya sendiri.
Komentar
Posting Komentar