Belajarlah dari Thomas Jefferson
Media sosial digunakan oleh hampir seluruh manusia di muka bumi. Muda, tua, anak-anak bermain gadget. Di media sosial pun orang dapat dengan mudah mengakses berita dan informasi. Bermacam hal mudah dibahas. Politik, agama, hukum, sosial, sejarah dan lain sebagainya. Di media sosial pun orang-orang bisa menambah pundi-pundi penghasilan, baik melalui tulisan maupun video. Kalangan ulama pun menggunakan platform digital untuk menyebarluaskan dakwah mereka. Politisi juga berkampanye di media sosial. Era digital memberi bergudang manfaat.
Penyebarluasan dakwah atau kajian islam semakin merebak dan gampang diakses oleh umatnya. Namun dari sekian banyak konten yang dipublikasikan berdampak positif dan negatif. Orang yang mendengar dakwah ketika tidak sesuai dengan logika dan tindakan serta cara ibadah yang biasa mereka kerjakan, mereka kemudian mencaci maki, menghina, memfitnah dan menuduh orang yang berceramah dengan membangun narasi yang menjatuhkan dan merendahkan ilmu dan pribadi ulama yang menyampaikan ceramah. Bahkan orang yang beragama di luar islam juga ikut-ikutan mencaci maki. Bahkan mereka tidak segan untuk menghina islam itu sendiri. Bermacam opini liar mereka bangun, teori-teori tak berdasar mereka sebarkan dengan menyudutkan islam kemudian membungkusnya dengan kata demokrasi. Yang lebih menyedihkan lagi, orang yang mengaku islam juga melakukan hal yang sama dengan dalih toleransi. Mereka rela mengubah arti terjemahan Al-quran hanya untuk menjaga perasaan umat agama di luar islam dan membungkus tindakan itu dengan kata persaudaraan. Mereka melupakan sejarah Indonesia bersatu, bukan karena persamaan saja, namun perbedaan juga menyatukan kita. Satu kesamaan yang nampak saat itu adalah sama-sama memiliki nasib pernah dijajah oleh bangsa asing. Lihatlah Timor Leste yang dilepas dari NKRI oleh presiden ketiga kita, karena kita dengan mereka sejak awal tidaklah sama. Perbedaan yang ada di antara Indonesia dengan mereka tidak dapat disatukan. Saling melepas diri kala itu diambil presiden ketiga Indonesia sebagai sebuah solusi. (Baca: detik detik yang menentukan, B.J Habibi)
Soal agama, tata cara ibadahnya, bukan di Indonesia saja yang memiliki perbedaan. Dunia Islam mengakui perbedaan yang ada dengan menghormati mazhab. Ada mazhab Syafii, Hanbali, Hanafi, dan Maliki. Keempat mazhab ini terdapat di seluruh penjuru dunia dan diyakini serta diikuti oleh umat islam. Satu mazhab yang diyakini oleh satu kelompok Syiah, mazhab syiah tidak diakui oleh dunia, karena dianggap menyimpang dari islam.
Dalam menyampaikan ceramah dan menyebarluaskannya, isi ceramah tersebut tidak hanya didengar oleh jamaah yang hadir saja di pengajian tersebut, canggihnya tekhnologi membuat ceramah yang disebarkan dapat didengar oleh manusia seluruh dunia. Ketika seorang penceramah atau ustadz yang berceramah menyampaikan ibadah-ibadah yang tidak dikerjakan nabi, aliah bid'ah, seperti contoh, maulid nabi itu bid'ah, sontak membuat orang yang tiap tahunnya menggelar acara maulid marah dengan pernyataan tersebut. Kemarahan itu dibalas dengan label wahabi salafi dan dituduh mengajarkan ajaran ekstrimisme dan intoleran. Padahal ulama yang marah ini juga ikut mengenalkan empat mazhab pada jamaah. Mengenai mazhab yang mengajarkan melakukan amal yang hanya dilakukan oleh nabi Muhammad SAW, alias ketika nabi tidak melakukan sebuah amalan, maka tidak perlu membuat amalan yang tidak dicontohkan nabi dan mazhab itu dikenal dengan mazhab Hanbali. Namun perbedaan antara mazhab juga mereka mengetahuinya, akan tetapi ulama yang marah itu lebih memilih melampiaskan kemarahannya dari pada tabayyun dan menjelaskan kepada umat bahwa mazhab yang mengikuti maulid berbeda dengan yang tidak melakukan maulid. Mereka kompak mengolok-olok dan merendahkan kemudian menuduh wahabi dan memperingati umat untuk tidak mengikuti wahabi salafi. Artinya mereka melarang umat untuk tidak mengikuti mazhab Hanbali.
Hal ini tidak boleh dilakukan, kenapa? Pandangan saya menyimpulkan, isi ceramah yang memuat peringatan untuk tidak menggelar acara maulid disiarkan untuk menjangkau mereka para jamaah yang sama berkeyakinan dengan mengikuti mazhab yang sama dengan ustadz yang memberi ceramah tersebut. Benar bahwa ketika ceramah tersebut disebarluaskan akan dikonsumsi oleh semua orang. Itu tidak berbahaya. Karena ceramah itu disebarkan untuk menjangkau jamaah mereka yang berada di tempat lain.
Hingga sekarang, kita, baik yang se aqidah maupun tidak, saling serang, saling tuduh, saling fitnah, hanya karena didasari perbedaan. Di saat yang sama kita juga teriak bhineka tunggal ika. Alangkah malunya kita sebagai sesama anak bangsa terpecah hanya karena perbedaan pandangan dan cara ibadah.
Lama penulis memikirkan sebuah solusi untuk mengakhiri perpecahan yang didasari hal sepele ini. Hingga akhirnya penulis mendapatkan dua poin solusi untuk mengakhiri perpecahan ini.
Tiadakan Pintu bagi Perpecahan
Seperti yang telah saya sebut di atas, bahwa umat islam menjalankan ibadah mereka sesuai mazhab dan mengikuti ulama yang sering mereka dengar pengajiannya. Artinya umat muslim berguru kepada para ustadz yang sepemahaman dengannya. Apabila mereka mendengar ceramah dari ustadz yang lain, dimana isi ceramah tersebut bertolak belakang dengan yang diajarkan gurunya, sering mereka merasa terusik sendiri. Padahal kita semestinya paham bahwa cara kita beribadah itu tidak sama meski di satu negara. Pada satu kesempatan, ketika kita terusik, mendapat kesempatan untuk mengajukan pertanyaan kepada ustadz yang kita percayai dan ikuti, mengenai ceramah yang telah mengusik itu, sang guru sering memberi respons yang menambah suasana menjadi buruk. Penjelasan para guru atau ulama itu terkadang merendahkan bahkan melabeli wahabi salafi dengan makna negatif. Kemudian penjelasan mereka juga disebar di media sosial sehingga dikonsumsi oleh mereka para pengadu domba. Kemudian penjelasan tentang, sebut saja maulid itu bid'ah, para pengadu domba mengedit video tersebut dan disandingkan dengan penjelasan bahwa maulid itu tidak bid'ah. Kemudian si penyebar video membangun narasi yang sangat kentara sekali sebagai bentuk provokasi. Jika kita jeli dan cermati, kita akan paham bahwa motifnya adalah mengadu domba umat islam. Uang juga dijadikan motif lain, karena ketika kita saksikan potongan video yang diedit itu, si penyebar mendapat uang.
Para ulama, kyai, habib, ustadz, da'i, penceramah dan lainnya, harus berani mengakui mazhab yang ia yakini dan ikuti di depan umat. Saat menyampaikan ceramah, mereka mesti mengakui bahwa ceramah mereka didasari oleh mazhab yang ia ikuti. Kemudian ketika rekaman ceramah disebarluaskan melalui youtube, mereka harus membuat di thumbnail nama mazhab mereka, kemudian juga menulisnya dijudul dan menyertakan mazhab mereka di sepanjang atau selama video berlangsung dan letakkan di tengah agar ketika orang ingin mengeditnya, nama mazhab mereka masih terlihat jelas. Hal ini harus dilakukan agar orang-orang yang mencari makan dengan cara mengadu domba tidak menemukan celah untuk mengedit video dan kemudian menyebarluaskannya dengan tujuan memecah belah umat.
Kemudian ketika para ulama atau ustadz mempertimbangkan tips ini dan menerapkannya sebagai sebuah solusi untuk meredam dang mengakhiri perpecahan antar umat muslim, maka kita sebagai jama'ah ketika menonton youtube, dapat memilih ceramah yang sesuai dengan mazhab yang kita yakini dan ikuti. Dengan melihat thumbnail dan judul yang disertakan nama mazhab maka pertikaian karena perbedaan cara ibadah sama sekali tidak kita dengar lagi. Namun apabila ada yang tetap ingin mendengar ceramah yang disampaikan oleh ulama yang berbeda mazhab dengan Anda, maka Anda tidak perlu memanas-manasi telinga dan hati Anda sendiri jika mendapati perbedaan yang pasti ada itu. Cukup dengarkan ceramah yang berbeda mazhab dengan Anda sebagai penambah wawasan Anda. Misalnya seperti ini, dalam sholat ada perbedaan, misal, soal melipat tangan ketika sholat, ada yang mengajarkan, saat sholat tangan dilipat di dada, perut, atau antara dada dan perut, tepatnya di atas pusar, dan itu sesuai mazhab "A", kemudian Anda melihat cara sholat dengan tangan tidak dilipat sesuai yang diajarkan mazhab "B", maka jadikanlah itu sebuah media untuk menambah wawasan Anda, cukup hanya disitu, jangan kemudian Anda mencelanya. Tinggalkan saja dan tetaplah ikuti mazhab yang Anda yakini sebelumnya. Ketika Anda ingin berpindah ke mazhab yang lain, karena Anda merasa mazhab lain tersebut cocok dengan Anda, maka kemudian ikutilah dengan keseluruhan dan jangan pula kemudian hari, setelah Anda bertambah yakin dengan mazhab yang baru Anda ikuti itu, membuat Anda menjelek-jelekkan mazhab yang lama dan jangan merendahkannya. Karena semua penulis mazhab yang diakui dunia itu, menulis mazhab berdasarkan dalil yang kuat dan telah diteliti sebelumnya. Jangan sampai kemudian tindakan Anda itu menafikan hadist yang shahih.
Jika kita telah sama-sama menerapkan solusi ini, baik ulama maupun umat isam tidak akan mudah lagi terseret pada jebakan adu domba yang dilancarkan musuh-musuh islam. Bagaimana pun, umat islam itu wajib merapatkan shaf yang artinya wajib bersatu meski berada di tengah perbedaan. Menutup celah bagi para pengadu domba untuk tidak bisa merusak persatuan kita memanglah sebuah keharusan, namun alangkah eloknya, pintu yang menciptakan celah tersebut kita tiadakan, maka kokohlah kita sebagai umat islam, karena tak ada satupun cara bagi pengadu domba dan musuh islam untuk merusak persatuan kita.
Belajarlah dari Thomas Jefferson
Thomas Jefferson adalah salah satu bapak pendiri bangsa Amerika Serikat, ia juga merupakan presiden Amerika Serikat ketiga. Thomas Jefferson seorang penganut protestan taat. Ia juga dengan tegas mengakui bahwa ia anti islam. Namun pandangan pribadinya tentang islam tidak serta merta membuat presiden ketiga Amerika Serikat itu menggunakan kekuasaannya untuk mengkriminalisasi umat islam, ia tidak menggerakkan massa untuk melukai atau membunuh umat islam, ia juga tidak menyebarkan kebenciannya terhadap islam, kemudian ia juga tidak pernah membakar kitab suci umat islam yakni Al-quran. Thomas Jefferson juga tidak menganggap Al-Quran itu sumber radikal dan intoleran.
Thomas Jefferson menterjemahkan Al-quran dari bahasa Arab ke bahasa Inggris. Saat ia membaca Al-quran banyak kata kafir yang ia temukan di dalam Al-quran dan ditujukan kepada siapa kata kafir itu telah diketahuinya. Namun, Thomas Jefferson tidak panas hatinya karena ia sadar bahwa itu adalah pandangan islam. Tentu saja ia paham bahwa di dalam setiap agama mengandung terminologi itu. Kata kafir yang ia temukan dalam Al-quran tidak serta merta membuatnya menilai bahwa islam adalah agama intoleran dan tidak berusaha menghilangkan kemurnian islam dengan tidak menghapus atau mengganti kata kafir dengan kata lain. Ia yang menterjemahkan Al-quran juga tidak menghapus ayat-ayat yang mengandung kata kafir, ayat yang berisi perintah tegas kepada umat di luar islam dan lain sebagainya yang dilabeli oleh sebagian kecil rakyat Indonesia sebagai sumber radikalisme. Ia juga tidak menyebarkan islamophobia di tengah rakyat Amerika Serikat. Thomas Jefferson membaca Al-quran dan menterjemahkannya untuk media menambah wawasan dan mewariskannya kepada generasi berikutnya, bukan dijadikan bahan olok-olok dan menemukan kesalahannya kemudian dijadikan bahan untuk mengadu domba antar umat.
Syariat islam itu diwajibkan bagi pemeluk islam. Umat di luar agama islam tidak diwajibkan untuk melaksanakannya. Apabila seseorang dengan cara tidak sengaja atau pun sengaja mendengar ceramah islam, dimana ceramah itu bertentangan dengan ajaran agamanya, maka orang itu tidak perlu emosi yang kemudian mencaci maki islam.
Seperti kasus ketika UAS (ustadz Abdul Somad) menyampaikan bahwa menurut gurunya catur itu haram, maka orang di luar islam yang fanatik terhadap permainan catur tidak perlu marah mendengar ucapan UAS. Karena pernyataan tersebut untuk memberitahukan kepada jama'ahnya yang mengikuti pemahaman atau mazhab yang sama dengannya. Anda tidak perlu membuang catur Anda, dengan cara menyindir UAS. Anda tidak perlu marah dan tetaplah bermain catur seperti biasa. Dengan itu kita akan terlihat harmonis sebagai umat beragama. Begitu juga dengan orang islam yang hobi bermain atau menonton pertandingan catur, tetaplah mainkan catur Anda, karena pemahaman Anda dengan UAS berbeda. Jangan perbedaan di antara kita ini membuat kita menciderai dan melukai bhineka tunggal ika yang telah lama kita rawat. Jangan jadikan perbedaan pandangan soal halal haram ini sebagai bahan kita untuk bertikai. Perhatikan konteks pembicaraan agar tidak tersesat dalam penggiringan opini yang dibangun dan disebarluaskan oleh kelompok-kelompok tertentu yang memang niatnya dan pekerjaannya menjadi tukang adu domba.
Jika umat beragama benar-benar mengakui sebuah perbedaan, tentu mudah bagi kita untuk menghindarkan diri dari pertikaian. Jika semuanya kita kritik dan anggap salah, artinya kita mencoba memaksakan pemahaman kita kepada orang lain dan menjadikannya tunggal. Hal semacam ini tidak bisa dilakukan karena Indonesia ini adalah bangsa dengan segala perbedaan yang menyatu dalam negara kesatuan republik Indonesia dengan bhineka tunggal ika yang kita banggakan. Seharusnya kita tidak terpecah karena perbedaan-perbedaan yang ada di antara kita, baik agama, politik dan lain sebagainya. Begitu juga para ulama, jika memang mereka saat kuliah dulu diajarkan empat mazhab yang terkenal di dunia itu, maka seharusnya mereka saat ini tidak bertikai karena mereka mengetahui perbedaan-perbedaan tersebut.
Dalam hal menaggapi pertanyaan jamaah tentang cara umat menyikapi perbedaan di antara ulama, seharusnya jawaban ulama yang ditanya haruslah bernada lembut dan mendinginkan. Jangan ketika ditanya soal perbedaan pendapat dalam beribadah kemudian mengelompokkan ulama-ulama dengan sebutan ahlusunnah wal jamaah. Karena penyebutan ahlusunnah wal jamaah, dengan kata lain suni, adalah untuk membedakan kita dengan kelompok atau pemahaman syiah. (Baca: Sejarah Islam yang hilang)
Saat ahlusunnah wal jamaah pertama kali diucapkan, itu juga merangkul mazhab hanafi, maliki, syafii, dan hanbali. Lihat saat ini, penyebutan ahlusunnah wal jamaah terkesan mengkerdilkan mazhab yang diikuti oleh kelompok yang dituduh wahabi salafi. Pertikaian antar ulama yang terjadi saat ini terlihat miris dan tak perlu terjadi. Pertikaian yang ada terlihat dimana para ulama yang bertikai saling merendahkan satu sama lain.
Pertikaian antar para ulama hanya bisa dihentikan oleh ulama itu sendiri. Ulama yang tidak ikut dalam perselisihan juga patut dipertanyakan kapasitasnya sebagai pewaris nabi itu. Sejauh ini tidak satu pun ulama yang tengah berupaya menyelesaikan pertikaian yang terjadi. Penulis menyakini hanya ulama yang mampu mengakhiri pertikaian ini karena jamaah mereka sangat mencintai ulamanya dan menuruti perkataan ulama yang mereka cintai. Penulis membayangkan ketika ulama ditanyakan oleh jamaahnya tentang persoalan adanya perbedaan pandangan soal qunut, sang ulama menjawab "santai saja menyikapi perbedaan itu, orang yang tidak qunut jelas berbeda mazhab dan pengambilan dalil melaksanakan ibadah dengan kita, ikuti kata hatimu, jangan campur adukkan pemahaman mazhab, jika Anda lebih condong melaksanakan qunut, lakukan, apabila tidak, jangan lakukan qunut dalam sholatmu. Jangan sampai perbedaan semacam ini menyeret kita ke dalam jurang yang kelam".
Penulis sangat meyakini, apabila ulama berbicara seperti itu atau dengan bahasa yang lebih elegan maka umat tidak akan mudah terperangkap dalam jebakan kelompok-kelompok pengadu domba.
Semoga apa yang penulis tulis di sini mudah dipahami oleh para pembaca. Sudi kiranya pembaca untuk menyebarkan tulisan ini ke semua kontak telepon Anda dan semua teman di media sosial Anda.
Komentar
Posting Komentar