Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2022

Belajarlah dari Thomas Jefferson

Media sosial digunakan oleh hampir seluruh manusia di muka bumi. Muda, tua, anak-anak bermain gadget. Di media sosial pun orang dapat dengan mudah mengakses berita dan informasi. Bermacam hal mudah dibahas. Politik, agama, hukum, sosial, sejarah dan lain sebagainya. Di media sosial pun orang-orang bisa menambah pundi-pundi penghasilan, baik melalui tulisan maupun video. Kalangan ulama pun menggunakan platform digital untuk menyebarluaskan dakwah mereka. Politisi juga berkampanye di media sosial. Era digital memberi bergudang manfaat. Penyebarluasan dakwah atau kajian islam semakin merebak dan gampang diakses oleh umatnya. Namun dari sekian banyak konten yang dipublikasikan berdampak positif dan negatif. Orang yang mendengar dakwah ketika tidak sesuai dengan logika dan tindakan serta cara ibadah yang biasa mereka kerjakan, mereka kemudian mencaci maki, menghina, memfitnah dan menuduh orang yang berceramah dengan membangun narasi yang menjatuhkan dan merendahkan ilmu dan pribadi ulama ya...

Gajah tak Nampak, Semut Terlihat

Ustadz Abdul Somad adalah penceramah umat muslim terkemuka di Indonesia. Ia juga seorang intelektual yang dimiliki bangsa Indonesia. UAS adalah penceramah yang tegas dalam menyampaikan isi ceramahnya. Guyonan juga merupakan ciri khasnya. UAS sangat dihormati oleh murid-muridnya dan dicintai oleh jamaah yang terus mengikuti kajiannya. UAS cinta NKRI, ia setuju dengan Pancasila. Tidak ada bukti yang mampu membuktikan bahwa ia berafiliasi dengan kelompok teroris manapun dan juga tidak mendukung sistim khilafah diterapkan di Indonesia. Indonesia digemparkan oleh perlakuan Singapura yang mendeportasi atau menolak kedatangan UAS, ulama yang dicintai dan dihormati di Indonesia masuk ke negara Singapura. Alasan mereka karena UAS mengkafirkan umat di luar Islam. Di mana menurut saya, alasan Singapura menolak UAS tidak logis. UAS menyebut umat di luar islam kafir hanya sebatas menyampaikan ayat-ayat Al-Quran. Begitu juga agama lain yang menganggap umat di luar agamanya sebagai domba yang tersesa...

Buruknya Kebebasan di Indonesia

 Kebebasan tanpa Batas Demokrasi Indonesia tidak bisa dipungkiri bahwa semua itu adalah hasil perjuangan aktivis 98 bersama mahasiswa dan rakyat. Mereka memaksa pemimpin orba untuk mundur dari kekuasaannya. Setelah almarhum bapak Soeharto mundur, kekuasaan beralih kepada Almarhum Bapak B.J Habiebi. Peran pak Habiebi untuk demokrasi Indonesia juga tidak boleh dilupakan. Pasalnya, pak Habiebi adalah orang yang membuka pintu demokrasi di Indonesia dengan membuatkan payung hukum untuk melegalkan tuntutan massa aksi. Kebebasan berbicara, berekspresi, berpendapat, memeluk agama dan kebebasan pers dan banyak lainnya. Semua itu dirumuskan oleh pak Habiebi di bawah tekanan. Bayangkan saja, saat merumuskan undang-undang, pak Habiebi didesak untuk mundur dari kursi kepresidenan karena dianggap sebagai antek orba. Tekanan bathin saat almarhum pak Harto, ketika pak Habiebi menjabat presiden ke tiga, pak Harto tak mau lagi bertemu dengannya hingga akhir hayatnya, belum lagi soal Timor-timur dan ...