Gagasan dan Keadilan Anies Palsu
Anies Baswedan, ketika dalam acara dialog kebangsaan tahun 2022 lalu dan dalam beberapa kesempatan pernah mengutarakan gagasan masa depannya di hadapan publik. Anies yang kala itu masih menjabat gubernur DKI Jakarta mengutarakan tiga gagasannya yang bila kita saksikan dengan seksama, maka akan tergambar sebagai gagasan yang satu kesatuan yakni Memperbaiki sistem pendidikan, Meningkatkan kualitas manusia, Menjawab tantangan urbanisasi. Pendidikan adalah prioritas utama Anies Baswedan.
Kemudian, setelah dideklarasikan oleh partai Nasdem sebagai capres 2024 dan membentuk koalisi dengan tema Koalisi Perubahan Persatuan, Anies Baswedan sering mengucapkan keadilan di setiap kunjungannya ke beberapa kota menyapa para pendukungnya. Seolah Anies ingin menegaskan, apabila tiga gagasannya terealisasi, maka keadilan akan mudah terwujud.
Tetapi hal itu berubah, dari putih perlahan menjadi abu-abu sehingga akhirnya menjadi hitam pekat. Bagaimana tidak, belumlah Anies sempat menjelaskan teori keadilan versi dia dan konsep-konsep untuk meraih keadilan itu, Anies Baswedan untuk bersikap adil terhadap dirinya sendiri saja, Anies tak mampu. Setelah terkuak isue, Anies diduetkan secara sepihak oleh Surya Paloh, ketum Nasdem dengan Muhaimin Iskandar atau Cak Imin, Ketum PKB, Partai Demokrat mempublikasikan pernyataan sikap di mana poin nomor dua mengatakan bahwa Anies sepakat pasangannya atau cawapresnya di pilpres 2024 adalah Cak Imin. Padahal, menurut Demokrat, Anies mengirim surat kepada AHY, ketum Demokrat agar bersedia menjadi cawapres Anies Baswedan di pilpres 2024.
Terlepas dari apa pun itu, termasuk intervensi dari penguasa atau bahkan Surya Paloh sendiri, sebagai seorang intelektual, Anies semestinya menjunjung moralitas. Terlebih Anies adalah seseorang penyandang gelar PhD. Sebelum mendapat gelar PhD, Anies tentunya belajar tentang etika dan keadilan, dan sudah semestinya Anies mengetahui bahwa untuk mewujudkan keadilan, seseorang harus terlebih dahulu mampu bersikap adil terhadap dirinya sendiri. Lantas bagaimana dia akan mewujudkan keadilan yang dia maksud, adil terhadap dirinya sendiri saja, Anies Baswedan tidak sanggup dan dia juga tak mampu bersikap adil terhadap seorang Agus Harimurti Yudhoyono.
Ketika Anies mengungkapkan tiga gagasannya untuk Indonesia di masa depan, di mana Anies memprioritaskan pendidikan, banyak orang antusias dengan gagasan tersebut, termasuk saya sendiri. Saya tertarik karena Anies prioritasnya adalah pendidikan, di mana pendidikan selalu di nomor duakan oleh capres-capres sebelumnya. Namun gagasannya tentang meningkatkan kualitas manusia, Anies menjelaskan bahwa, selama ini fokus Indonesia adalah meningkatkan sumber daya manusia, di mana ketika SDM ditingkatkan, justru manusia tersebut hanya akan diperah oleh perusahaan (kapitalis). Anies membayangkan hal baru, agar manusia tetap menjadi manusia dengan menggagas ide meningkatkan kualitas diri manusia itu sendiri.
Namun dengan terkuaknya fakta, Anies diduetkan "paksa" dengan Cak Imin, di mana sebenarnya Anies sendiri berkeinginan berpasangan dengan AHY di mana nama AHY menurut Demokrat di dapatkan Anies atas saran guru spiritual Anies, tetapi keputusannya berubah karena keputusan sepihak Surya Paloh. Muncul pertanyaan di sini, bagaimana Anies Baswedan akan mampu merealisasikan gagasan meningkatkan kualitas manusia seperti yang pernah ia utarakan di hadapan publik? Sedangkan menjaga kualitas dirinya sendiri saja dia tak kuasa?
Hal-hal besar yang pernah diutarakan oleh Anies Baswedan hanyalah berada di angan-angan. Jika dalam berangan-angan saja dia tak mampu konsisten, bagaimana Anies akan membangun konsep-konsep untuk mewujudkan keadilan dan gagasan yang dia maksud?
Terakhir, apa yang dilakukan Anies dan Nasdem menambah catatan bahwa banyak politisi Indonesia penganut dan penghamba teori politik Niccollo Machiavelli. Ketika Machiavelli mengatakan; lepaskan etika dari politik, banyak politisi Indonesia mengaminkan dan mempraktikkan, termasuk Anies Rasyid Baswedan. Jadi, keadilan dan gagasan Anies Baswedan adalah palsu.
Komentar
Posting Komentar