Adab Semu

 Tulisan ini lahir dari pengamatan pribadi dari apa yang tersebar luas di media sosial dan media mainstream soal perbincangan mengenai adab. Contoh "adab" yang ditulis kali ini dari perspektif politik dan penceramah.

Manusia diajarkan ilmu adab baik di rumah ibadah maupun di sekolah dan rumah gadang. Bahkan falsafah minang kato nan ampek juga merupakan pelajaran tentang adab. Lalu apa itu adab?

Dikutip dari Wikipedia, menurut Al-Attas, secara etimologi adab berasal dari bahasa Arab yaitu أَدَّبَ - يُؤَدِّبُ (addaba - yu addibu) yang berarti mendidik atau pendidikan. Arti adab secara keseluruhan yaitu segala bentuk sikap, perilaku atau tata cara hidup yang mencerminkan nilai sopan santun, kehalusan, kebaikan, budi pekerti atau akhlak.

Sementara adab dalam era modern ini pada praktiknya sangatlah kabur. Dari segi politik, ketika penguasa yang tidak disenangi dikritik, maka kritikan dalam bentuk apa pun dianggap pantas. Meskipun kritikan itu menyertakan kosa kata berkonotasi negatif seperti dungu, bodoh, bajingan, tolol dan lain-lain. Kritikan seperti itu dianggap kebebasan berbicara dan bagian dari demokrasi. Pikiran semacam itu timbul karena kritikan seperti itu mewakili dirinya. Seperti contoh ketika Rocky Gerung yang kerap mengkritik Presiden dengan selalu memilih kosakata berkonotasi negatif, orang-orang yang kontra dengan presiden akan tepuk tangan. Namun ketika orang-orang yang senang dengan kritikan Rocky tersebut, junjungannya, pemimpin yang didewa-dewakan oleh mereka dikritik oleh orang lain, maka kritik dengan cara apa pun akan dinilai negatif, meskipun kritikan itu tidak menyertakan kosa kata yang berkonotasi negatif. 

Masih segar ingatan kita ketika Gubernur Sumbar, Mahyeldi Ansharullah dikritik oleh Presiden Mahasiswa UIN Sjech Djamil Jambek Bukittinggi tepat di depan gubernur, para pendukungnya teriak adab dan etika dengan suara kencang hingga setan takut mendengar suara itu dan malaikat tertawa karenanya. Malaikat tertawa karena ketika junjungannya dikritik mereka menuntut adab. Ketika pemimpin yang kontra dengannya dikritik dengan menggunakan kosakata negatif mereka tepuk tangan tertawa terbahak-bahak.

Dan selanjutnya saya geser ke penceramah.

Era digital ini semua informasi gampang didapat oleh orang-orang yang memiliki media seperti smartphone dan orang yang punya fasilitas mengakses internet. Begitu juga mengakses dakwah dari orang yang mereka anggap ustadz dan tentunya mereka idolakan.

Adi Hidayat juga diidolakan oleh banyak orang. Ketika Adi Hidayat menyampaikan ceramah dan didengarkan oleh orang yang berbeda pandangan dengannya, maka sering muncul pertikaian yang berujung degradasi moral. Pendukung Adi Hidayat ataupun pihak lain yang berseberangan akan saling caci maki, sedikit sekali mereka berdebat dengan santun. Ketika Adi Hidayat menjelaskan arti nama Anies yang dijelaskan dengan panjang lebar dan dikatakan lawan kata Anies itu bermakna setan, kemudian Adi Hidayat menggiring orang untuk menyebutkan kata setan yang ada di kepalanya dan ditujukan kepada orang yang tidak menyukai Anies.  Dari sini saya menyimpulkan, adab itu seperti tidak pernah ada apabila menyangkut orang yang diidolakan. Akan menjadi amarah dan tudingan tidak beradab ketika idola yang menjadi sasaran. Entah apa hubungan kontra Anies dengan setan seperti yang ada dalam pikiran Adi Hidayat.

Dari Adi Hidayat saya geser ke Abdul Somad. Saat berceramah di atas mimbar, Abdul Somad seakan curhat di hadapan orang yang mengidolakannya. Abdul Somad mengatakan seseorang berkomentar terhadap dirinya dengan mengatakan "kapan melawak lagi ke Jakarta Ustadz?" Memang Abdul Somad tidak membalas komentar seperti itu. Tetapi Abdul Somad mengejek Ustadz yang mungkin disenangi oleh orang yang menganggap Abdul Somad sebagai pelawak. Dia mengejek gelar LC si Ustadz, dan membanggakan gelarnya sendiri, tempat kuliahnya dan disertasi dia yang behalaman tebal. Kemudian yang menurut saya tidak pantas diucapkan oleh orang yang diidolakan sebagai ulama adalah ketika Abdul Somad membully wajah seseorang yang bergelar LC tersebut dengan mengatakan "wajah ustadz kau seperti jeruk purut diinjak Gajah". Memang tidak diucapkan secara langsung namun kalimat itu diucapkan di depan jamaahnya. Padahal yang mengejek Abdul Somad bukan orang yang bergelar LC, tapi kenapa malah yang bergelar LC itu yang dibully?

Dari pernyataan Abdul somad itu muncul pertanyaan dalam diri saya, Siapa pencipta bentuk? Pencipta wajah? Kaki? Bahkan siapa pencipta rumput liar yang bentuknya berbeda-beda itu? Akal saya mengatakan pencipta itu semua adalah Sang Khalik, Sang Raja di langit dan Bumi. Pertanyaan kedua, siapa yang sesungguhnya dibully oleh Abdul Somad? Orang yang bergelar LC dengan wajah macam jeruk purut diinjak gajah seperti yang ada dalam pikiran Abdul Somad atau justru sang pencipta mulut Abdul Somad yang juga merupakan pencipta si empunya wajah macam jeruk purut itu?

Apa yang dilakukan dua penceramah itu, di mata pendukungnya tetaplah sesuatu yang baik, terutama pendukung fanatik. Tetapi apabila idola mereka yang dibully, rasanya dunia ini mau mereka hancurkan. Tentunya hal seperti ini bukan saja pada pendukung tokoh yang disebut di atas, yang lain pun juga begitu. Masalah perbedaan cara berwudu' saja, ummat ini berkelahi dan berbicara jauh dari definisi adab seperti diutarakan oleh Al-Attas.

Jadi, saya menyimpulkan bahwa adab bagi manusia modern, apabila itu menyangkut dirinya, idolanya atau pemimpin yang dia puja-puji, perbuatan yang tidak mencerminkan nilai-nilai akal budi atau akhlak, bukanlah sesuatu yang perlu diributkan. Tetapi ketika perbuatan yang tidak mencerminkan nilai-nilai adab menyasar pujaannya, mereka marah. Adab Semu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Realitas Ekonomi dalam Politik

Belajarlah dari Thomas Jefferson

Fakta Sejarah Demokrasi Indonesia