[Bukan] Pemimpin Bertangan Besi

 Muncul statement dari banyak orang setelah mengamati permasalahan negeri yang semakin kompleks kemudian sikap skeptis terhadap masa depan Indonesia yang tidak berbanding lurus dengan modal kekayaan yang dimiliki, maka dinilai bahwa Indonesia butuh pemimpin bertangan besi. Pikiran ini muncul karena pengelolaan kekayaan alam, sitem politik yang kacau dan tata kelola pemerintah yang dianggap buruk dan lebih pro terhadap kapitalis. Sementara itu kehidupan rakyat semakin menderita dan terpinggirkan. Rakyat yang sejahtera semakin makmur, rakyat yang biasanya cuma makan nasi putih berpindah memakan sabun, arang dan daun, itu pun harus berurusan dengan hukum lantaran dituduh mencuri.

Pemikiran membutuhkan pemimpin bertangan besi adalah tidak tepat. Pada dasarnya pemimpin itu dirinya harus dikelilingi etikabilitas, moralitas dan intelektualitas. Agar kebijakan yang diambil lebih pro kepada rakyat kecil. Namun kenyataannya orang yang berpendidikan tinggilah kemudian yang menikam dan menindas rakyat. Korupsi dilakukan oleh orang-orang yang berpendidikan tinggi, seperti akademisi yang ingin mendapatkan gelar guru besar. Begitupun pejabat yang yang etikanya nampak bagus, namun tak tahan dengan godaan kertas berwarna dan bernilai.

Orang bermoral pun saat ini tidak sanggup mempertahankan idealismenya karena berada di lingkungan yang buruk. Untuk mengubahnya pun mereka tidak mampu. Hedonisme di tengah kelaparan rakyat menjadi-jadi. Bahkan orang bermoral hari ini membenarkan moral buruk orang lain. 

Dari setiap permasalahan korupsi, kolusi dan nepotisme, sikap abai terhadap pendidikan dan ekonomi rakyat dengan membiarkan kekayaan alam Indonesia dikelola oleh negara asing membuat kita tersentak bahwa etika, moral dan intelektualitas saja tidak cukup bagi seorang pemimpin.

Pemimpin yang dibutuhkan Indonesia hari ini adalah pemimpin yang berakal budi dan memiliki hati nurani. Kemudian pemimpin tersebut pandai mengintegrasikan keduanya. Dengan tambahan akal budi dan hati nurani ini kemudian kebijakan yang diambil lebih memperhatikan aspirasi masyarakat. Orang yang memiliki hati nurani akan selalu mengutamakan kepentingan bersama daripada kepentingan pribadi. Inilah yang kurang dari pemimpin hari ini.

Akal (konsep, ide dan gagasan) kemudian diintegrasikan dengan hati nurani maka intelektualitas seorang pemimpin akan terus melahirkan kebijakan yang benar-benar menyejahterakan rakyat. Akal pemimpin yang berintegrasi dengan hati nurani akan memanfaatkan kekayaan alam untuk modal mewujudkan sila kelima dan amanah yang terdapat di dalam UUD 1945 yang saat ini tidak terealisasi, seperti Nikel yang dibiarkan dirampok oleh asing.

Pemimpin berakal budi tentu berbeda dengan pemimpin bertangan besi. Pemimpin berakal budi lebih cenderung berpikir terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan. Sementara pemimpin bertangan besi kecenderungan yang dimiliki adalah menalar sesuatu sebelum mengambil kebijakan. Orang yang berpikir sudah tentu bernalar. Tetapi kebiasaan orang yang menggunakan logikanya cenderung tidak berpikir terlebih dahulu. Ia hanya mengandalkan logikanya atas apa yang sedang terjadi di sekelilingnya lalu membuat keputusan. Dan itu sangat buruk.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Realitas Ekonomi dalam Politik

Belajarlah dari Thomas Jefferson

Fakta Sejarah Demokrasi Indonesia