Partai Politik Pengecut

 Kewenangan mencalonkan seseorang untuk menduduki kursi eksekutif dan legislatif adalah partai politik. Setiap yang diusung mesti jelas isi kepalanya, apakah mereka satu ideologi dengan partai atau tidak. Apakah mereka memahami permasalahan negeri yang kompleks ini dan apa konsep mereka untuk menyelesaikan persoalan itu, harus jelas. Kemudian partai politik seharusnya menjadikan diri mereka sebagai "dokter" untuk melahirkan pemimpin yang datang dari masyarakat. Ibaratnya, Rakyat adalah rahim pemimpin, partai politik sebagai dokternya.

Dalam sistem demokrasi partai politik adalah pilar utama. Dalam demokrasi dikenal istilah The government by reason trough the government by people. Pemerintahan akal melalui pemerintahan orang. Maka sudah menjadi kewajiban bagi partai politik menjadi sumber akal pikiran. Tetapi yang terjadi hari ini partai politik bertransformasi menjadi partai massa, partai yang mengandalkan popularitas dan isi tas seseorang. Intelektualitas, etikabilitas dan moralitas tidak lagi menjadi mutiara bagi partai politik.

Partai politik juga berperan dalam meniadakan gagasan dalam pemilu. Strategi politik uang yang dimainkan oleh calon yang mereka usung tidak mampu dicegah oleh partai politik. Sehingga itu menjadi kebiasaan. Setelah menjadi kebiasaan, maka sekarang ini gagasan tidak lagi menjadi penting sehingga partai politik untuk kepentingan dirinya mencopet orang-orang populer dan kaya untuk diusung dalam pemilu. Siapa dirinya dan untuk apa ada partai politik tidak dipedulikan lagi. Bahkan gambaran partai politik sekarang adalah siapa ketumnya maka itulah partai politik. Bila ketumnya pedagang maka partai politik berbisnis. Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa partai politik memperdagangkan tiket pilpres yang mereka kantongi.

Partai politik yang tujuannya adalah kekuasaan menggunakan cara-cara yang jauh dari Reason. Itulah pengecutnya partai politik. Partai lebih peduli popularitas dari pada gagasan. Visi misi calon yang diusung tidak penting. Yang penting adalah bagaimana suara partai membesar dengan mengusung orang-orang populer. Mereka takut kalah, oleh sebab itu mereka melanjutkan apa yang telah mereka mulai, membiarkan money politic. 

Bukti lain pengecutnya partai politik, mereka mengusung artis yang ketika ditanya oleh media latar belakangnya maju di pemilu legislatif, artis tersebut tidak mampu menjawab. Belum lagi ketika ditanya visi misinya. Kemudian nafsu mengusung orang populer, dua partai bahkan mencalonkan satu orang yang sama. Kepengecutan partai politik membuat mereka tertipu sendiri. Belum lagi bila seorang pebisnis yang diusung. Di balik layar ketika saya menanyakan visi misi seorang pengusaha sawit maju ke DPRD, dengan enteng orang itu menjawab untuk mengamankan semua bisnisnya.

Kepengecutan partai politik mengirimkan reason ke eksekutif dan legislatif melahirkan kebijakan yang rada ngawur dan menguntungkan kelompok mereka saja.  Reason yang tidak dimiliki oleh politisi melahirkan kebijakan yang akan diputuskan dipengaruhi oleh under table transaction. Kemudian kebijakan yang lahir dari eksekutif dan legislatif dicampuri oleh invisible hand.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Realitas Ekonomi dalam Politik

Belajarlah dari Thomas Jefferson

Fakta Sejarah Demokrasi Indonesia