Chaos Politik

 Chaos berarti kekacauan. Intrik chaos politik ini sering digunakan oleh elite politik korup dan pengusaha tak kenal kenyang. Chaos politik sengaja diciptakan untuk membenturkan rakyat pro dan kontra pemerintah. Psikologis rakyat dalam memberikan dukungan secara fanatik kepada sosok yang dijagokan dalam pemilu menjadi faktor tambahan mudahnya rakyat diadu domba. Tentu elite politik yang bersarang di partai politik tidak akan peduli hal itu karena yang utama adalah kemenangan partai. Selingkuhan partai politik yakni kapitalisme menjadi dalang operasi senyap nan gelap demi terjaganya bisnis mereka. 

Chaos politik telah dan sedang dimainkan di mana pemerannya adalah elite politik. Beberapa hal di bawah ini merupakan strategi menciptakan chaos politik yang mungkin bisa dihubungkan dengan kondisi politik Indonesia hari ini. 

Pertama dikenal dengan Order Out of Chaos. Istilah ini merupakan pepatah lama yang berkembang dalam kaum Freemason. Istilah ini berarti kecenderungan elite politik menciptakan krisis dan kekacauan di suatu wilayah atau negara. Menjelang pemilu upaya sengketa sengaja diciptakan. Mulai dari isu KPU sebagai penyelenggara tidak berintegritas yang berujung pada gugatan salah satu partai peserta yang berkas perkaranya sudah sampai di Mahkamah Agung. kemudian isu mahkamah konstitusi memperpanjang masa jabatan pimpinan KPK ditambah informasi dari prof Denny mengenai Mahkamah konstitusi yang akan mengembalikan sistem proporsional tertutup kemudian direspon oleh mantan presiden SBY akan terjadi chaos politik bila informasi itu benar terjadi. Respon SBY tersebut disinyalir menimbulkan ketakutan dan kekhawatiran di tengah masyarakat.

Kedua Butterfly Effect. Istilah ini sering dijumpai dalam Chaos of Teory. Istilah ini pertama kali digunakan oleh Edward Norton Lorez merujuk pada satu pemikiran bahwa kepakan sayap kupu-kupu di hutan belantara Brasil secara teori dapat menciptakan badai tornado di Texas, Amerika Serikat beberapa bulan setelahnya. Hal ini kemudian dapat memberikan efek jangka panjang karena butterfly effect  dikenal sebagai sistem yang ketergantungannya pada kondisi awal. Sistem pemilu yang sejak SBY berkuasa diubah menjadi proporsional terbuka akan dialihkan pada proporsional tertutup. Bila ini kejadian, maka akan mempengaruhi perubahan kelakuan sistem jangka panjang. Tatanan politik yang diatur oleh undang-undang akan kembali diubah dan partai politik baru atau partai yang saat ini masih kecil tidak akan mampu menjadi partai besar.

Yang ketiga adalah Skema Strategi Asimetris. Dikenal juga dengan non-militer. Pendekatan intrik ini melalui tiga aspek. Isu, Tema, Skema (ITS). Sering isu-isu untuk memprovokasi dilempar ke ruangan akademis atau kampus. Isu yang dilempar untuk test the water. Isu politik, ideologi, ras, agama, sosial budaya dilempar ke publik untuk ciptakan perpecahan dan membangun benturan-benturan. Di posisi isu inilah langkah awal bagi elite korup ini mencapai kesuksesan. Hal ini didukung oleh rakyat yang masih suka menjebakkan dirinya sendiri pada jurang ini.

Setelah Isu dilempar ke publik, aksi selanjutnya adalah agenda lanjutan atau tema. Ketika tema juga diterima publik, kemudian skema besarnya dimainkan.  Reaksi publik dengan tambahan masa pimpinan KPK menjalar pada skema pengaturan proporsional pada pemilu. Isu ini diperdebatkan di media massa dan media sosial. Selalu terdapat pro dan kontra tetapi kedua kubu tidak melihat aksi dibalik isu yang sedang dimainkan. Ketika isu berhasil maka skema besar kemudian akan terjadi sesuai alasan yang membolehkan pemerintah menunda pemilu.

Chaos Politik inilah yang kemudian menjadi tujuan utama elite korup agar kepentingan mereka terus langgeng.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Realitas Ekonomi dalam Politik

Belajarlah dari Thomas Jefferson

Fakta Sejarah Demokrasi Indonesia