Kedangkalan Berpikir Semut Muda
Tulisan ini lahir untuk menanggapi kritikan Bung Maulana, yang berjudul menakar sesat pikir yang ditujukan pada opini saya yang berjudul Intelektual Baling-baling. Opini tersebut memang saya tujukan pada intelektual yang awalnya mengkritisi putusan MK 90/2023. Di mana atas lahirnya putusan 90 itu, sebagian besar intelektual, termasuk Bung Maulana, mendengungkan istilah Anak Haram Konstitusi. Dibuktikan oleh putusan Mahkamah Kehormatan Mahkamah Konstitusi (MKMK) bahwa MK berselingkuh dengan kekuasaan. Penyebutan anak haram konstitusi menandai bahwa MK sudah menjadi pembunuh demokrasi.
Selanjutnya, Bung Maulana saya analogikan dengan semut muda. Sebab dia sendiri menganalogikan dirinya sebagai semut, yang benar atau tidak, pada kisah Ibrahim as, si semut berupaya mengangkut air untuk memadamkan api yang sedang membakar Ibrahim as.
Semut muda dalam tulisannya menakar sesat nalar BV, memulai dengan perasaan. Padahal saya memulai dengan proses berpikir. Saya tidak menemukan nalar dari tulisan semut muda tersebut. Yang saya temukan adalah kedangkalan berpikir, logika mistika, perasaan (sentimen negatif) dan inkonsistensi berpikir.
Di bagian judul, semut muda mengkhususkan kritikannya pada tulisan saya dengan judul Intelektual Baling-baling. Semut muda mengkritisi saya seolah-olah saya tidak memiliki kemampuan menyederhanakan bahasa. Sementara tulisan dia untuk mengkritisi opini saya, antara judul dan isi berbeda. Dia mencomot tulisan saya yang lain. Itu menandakan bahwa semut muda sendiri yang tidak memiliki kemampuan menyederhanakan bahasa. Bahkan semut muda juga tidak memiliki kemampuan mengedit kalimat. Ini menandakan semut muda memulai dengan ketidakjujuran.
Pada paragraf ketiga, sub-bab Subjektivitas Motif tulisan opini, semut muda menampakkan sentimennya terhadap tulisan saya. Semut muda memposisikan saya sebagai sok edgy atau memiliki opini berbeda dari yang lain. Saya jawab dengan mengutip Nirvana "mereka menertawakanku karena aku begitu berbeda. Aku menertawakan mereka karena mereka begitu sama". Dengan kedangkalan berpikir semut muda, saya ragu dia bisa memahami makna quote tersebut.
Paragraf keempat, semut muda menuding saya menggiring opini, memudarkan semangat kawan-kawan yang ikut aksi dan mencari sensasi. Tudingan menggiring opini, semut muda tidak menjelaskan bagian mana dari tulisan-tulisan saya yang bertujuan menggiring opini. Di sini menunjukkan semut muda asal tuding. Sudahlah asal tuding, memakai perasaan pula. Sekedar mengingatkan semut muda, perasaan itu cenderung membawa manusia pada kebodohan. Kemudian pernyataan memudarkan semangat kawan-kawan yang ikut aksi kawal putusan MK. Pernyataan yang tidak diawali proses berpikir. Artinya semut muda melakukan pembenaran. Dia lontarkan pernyataan terlebih dahulu tanpa diawali proses berpikir. Padahal saya menulis untuk mengingatkan bahwa para intelektual pernah menyatakan MK merusak demokrasi dengan melahirkan putusan 90 yang menambah catatan MK mencampuri fungsi legislatif. Kemudian dengan cara yang sama, MK melahirkan putusan 60 dan 70 yang justru didukung oleh para intelektual, termasuk semut muda, yang awalnya mereka menyatakan MK melakukan kesalahan berat karena mencampuri fungsi legislatif. Semut muda tersinggung, dan emosi memuncak karena saya mengingatkan dan mengkritik inkonsistensi berpikir mereka yang lahir dari sebuah ketidakjujuran. Kemudian semut muda menuding saya mencari sensasi. Sesuatu yang tidak pernah saya rumuskan.
Pada sub-bab sesat pikir opini BV, semut muda mengemukakan 6 poin yang dinyatakan sebagai bentuk kritik terhadap tulisan-tulisan saya. Poin pertama, semut muda menuding saya mengatakan bahwa intelektual adalah budak kekuasaan dan difasilitasi negara. Saya tidak mengatakan itu. Saya justru menyampaikan tugas intelektual adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Dalam hal inilah negara berperan. Saya mengkritisi, intelektual yang inkonsisten potensial melahirkan inkonsistensi pula. Tapi semut muda mengaburkan dengan membuat tuduhan tak mendasar. Seolah-olah saya katakan intelektual sebagai budak kekuasaan. Ini jelas keliru. Semut muda tidak memiliki pola dalam berpikir.
Pada poin kedua, semut muda justru menuding saya inkonsisten. Padahal saya dari awal konsisten menolak MK mencampuri fungsi legislatif. Saya menolak putusan 90, 60 dan 70. Karena prinsip saya, bila lembaga negara (Trias Politika) saling mencampuri fungsi masing-masing, maka akan melegitimasi abuse of power. Tidak seperti semut muda yang sama dengan Jokowi, pagi tempe, siang terong, sore tahu. Bagi semut muda putusan 90 ditolak karena ada Jokowi. Sedangkan putusan 60 diterima dan didukung karena ada PDIP dan Anies, yang mungkin salah satu dari kedua itu disenangi oleh Semut muda. Sementara saya, apabila A maka sampai akhir tetap A. Begitu seharusnya bersikap, Bung! Kemudian kalimat penyesuaian norma, menambahkan catatan bahwa semut muda bersuara bukan untuk membela konstitusi, melainkan digerakkan oleh kepentingan kelompok.
Pada poin ketiga, semut muda memperjelas ketidakjujurannya. Dia mengatakan mendukung atau menolak putusan MK mesti mempertimbangkan ratio decidendi putusan. Artinya dia membenarkan sendiri kritikan saya terhadap intelektual, bahwa mereka akan mendukung putusan MK untuk melawan kelompok yang berseberangan. Meskipun mereka pernah menyatakan itu suatu kesalahan, maka demi kepentingan mereka, itu menjadi benar. Semut muda juga mengakui, pada poin ini, bahwa MK melempar tulang pada gonggongan putusan 90.
Dangkal sekali pikiran semut muda! Pada poin empat, dia mengkritisi analogi yang saya gunakan dalam tulisan yang berjudul Intelektual Baling-baling. Istilah pinokio, raja jawa, saya tulis dalam konteks menggambarkan kelompok yang berbeda, analogi lemparan tulang ke arah gonggongan tak payah saya ulas lagi di sini. Sebab itu fakta yang diakui sendiri oleh semut muda. Analogi dokter bedah bukan saya tulis pada opini intelektual baling-baling, melainkan pada tulisan fakta sejarah demokrasi Indonesia. Dalam hal ini, semut muda mencoba mengelabui, bahwa dirinya pada awal tulisannya mengklaim tidak bermaksud menyudutkan saya. Dasar pembohong! Dari berbedanya judul dengan isi, itu jelas menyudutkan saya. Tetapi tidak masalah. Tapi di sini saya mengkritisi, lagi-lagi, ketidakjujuran semut muda.
Poin lima, semut muda menuduh saya mengabaikan fakta-fakta sejarah. Judul lain, yang dikritisi lain pula. Mengenai fakta sejarah tidak saya tulis pada Intelektual baling-baling melainkan pada tulisan yang berjudul fakta sejarah demokrasi Indonesia. Untuk itu saya katakan, bahwa semut muda menampakkan diri sedang marah sehingga dia mencari-cari kesalahan pada tulisan opini saya. Dan dia menipu diri sendiri tentang apa yang dia tulis di awal komentarnya. Saran saya pada semut muda "gunakanlah akalmu wahai orang-orang yang melihat".
Pada poin enam, semut muda percaya diri sekali menuding saya menggunakan emosi untuk mempengaruhi pendapat pembaca. Semut muda dengan kedangkalan berpikir stadium empat ini salah membaca istilah yang saya gunakan. Istilah Machiavellian, si rakus dan budak kekuasaan bukan saya tujukan untuk intelektual. Saya katakan, jika intelektual inkonsisten dan tidak jujur, maka Machiavellian, si rakus dan budak kekuasaan akan tumbuh berkembang. Inilah akibat dari kedangkalan berpikir dan membawa-bawa perasaan.
Pada awal paragraf sub-bab sebuah sikap turun ke jalan, di kalimat akhir, semut muda menulis bahwa MK merusak demokrasi. Di sini semut muda keliru menggunakan istilah. Dia menyamakan guardian of constitution dengan guardian of democracy. Semut muda tampak tergesa-gesa. Hal itu menunjukkan logika berpikirnya perlu pembenahan. Tetapi saya maklum, sebab semut muda menggunakan perasaan dalam mengkritisi.
Berikutnya, pada gabungan paragraf dua dan tiga tentang mengubah aturan menjelang pemilu, semut muda klaim hal itu sah. Hal yang kontras. Sewaktu putusan MK 90 yang mengubah aturan menjelang pilpres, semut muda melontarkan carut marut tanda kesal. Dia ucapkan otak-atik aturan sebelum kontestasi dimulai adalah sesuatu yang sah, setelah putusan 60 dan 70. Dasar pikiran culas.
Paragraf lima, semut muda mengkerdilkan dirinya sendiri dengan pernyataan bahwa dirinya dan ribuan orang lain akan tetap menjadi semut kecil yang terinjak dan mati. Dia tidak memahami posisinya sebagai warga negara secara komprehensif. Ini akibat dari memurahkan diri untuk terkontaminasi oleh pikiran-pikiran sempit.
Terakhir, semut muda mengutip kisah semut yang membawa air untuk memadamkan api yang membakar Ibrahim as. Semut muda mengutip kisah yang tidak jelas kesahihannya itu. Semut muda tidak terlebih dahulu memverifikasi apakah kisah tersebut fakta atau hanya suatu dongeng. Sebab kisah Ibrahim as sudah dijelaskan dalam kitab suci di mana api tidak membakar Ibrahim karena perintah Tuhan kepada Api untuk berubah menjadi dingin. Semut muda memakan kisah itu mentah-mentah tanpa dikunyah. Ini yang disebut logika mistika oleh Tan Malaka.
Kisah itu digunakan semut muda untuk memberitahukan posisinya terhadap putusan 60 dan 70, seolah semut muda turun aksi berada pada posisi membela demokrasi dan konstitusi. Padahal posisinya berada pada putusan 60 karena ada Anies dan PDIP, sedangkan pada putusan 70 karena ada Anak Jokowi yang batal menjadi calon kepala daerah. Saya meragukan klaim semut muda yang membela demokrasi. Karena semut muda hanya mengerti definisi demokrasi secara sempit yang dirumuskan oleh Joseph Schumpeter, di mana demokrasi adalah datang ke TPS dan demontrasi apabila pemimpin politik abuse atau sewenang-wenang. Saya sarankan semut muda membaca David Held. Bacalah jurnal dan buku, jangan dari google apalagi mengkonsumsi Artificial Intelegence.
Kemudian saya juga menyangsikan pembelaan semut muda pada konstitusi atau UUD 1945. Apakah semut muda membela konstitusi yang melindungi kedaulatan penguasa? Atau jangan-jangan semut muda tidak mengetahui bahwa konstitusi tidak menjamin kedaulatan rakyat. Saya pikir semut muda tidak memiliki kecerdasan untuk memahami konstitusi yang berlaku saat ini, di mana pasal 1 ayat 2 bertentangan dengan pasal-pasal yang mengatur tentang trias politika (eksekutif, legislatif dan yudikatif).
Komentar
Posting Komentar